You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR PKS. Tampilkan semua postingan

Read more
Dalam rangka menyambut Hari Ibu tanggal 22 Desember, Bidang Perempuan PIP PKS Johor menyelenggarakan seminar dengan tema Menjadi Muslimah Entrepreuner (23/12/2012). Seminar ini diselenggarakan di kantor IKRAM Taman Universiti, Johor, Malaysia.

Seminar yang menghadirkan DR. Mira Kartiwi, B.Com, M.Infosys, seorang dosen dan asisten Professor di International Islamic University Malaysia dihadiri 150 orang peserta. Mereka terdiri dari mahasiswa, istri-istri dosen, istri staff KJRI dan pekerja wanita di Johor, Malaysia.

Ketua Bidang Perempuan PIP PKS Johor, Meti Herawati, SPd, dalam kata sambutannya mengatakan bahwa kegiatan menyambut hari ibu yang diselenggarakan setiap tahun ini bertujuan untuk memberikan penghargaan pada tugas dan peran penting ibu dalam keluarga, masyarakat dan bangsa.

Sementara itu, menurut ketua panitia, Afifatunnisa, Lc, kegiatan seminar dengan tema Menjadi Muslimah Entrepreuner bertujuan untuk memberikan bekal kepada para perempuan Indonesia untuk berusaha mandiri dan meningkatkan kualitas perempuan dan ibu Indonesia.

Dalam seminar ini tergali informasi, hanya 10% dari peserta yang sudah melakukan kegiatan wirausaha. Ini ditunjukan dari banyaknya alasan peserta yang menjadi kendala dalam berwirausaha. Alasan yang paling banyak adalah tidak ada modal, banyak saingan dan tidak bakat dagang.

Menurut DR. Mira, jika kita bisa mengalahkan semua tantangan itu, maka kita akan bisa berhasil. Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan bakat dagang, tetapi banyak pula yang berhasil dalam dunia wirausaha. Hal ini karena selain bakat, ketekunan lebih dominan dalam mencapai keberhasilan.

Diakhir bahasan, DR Mira berpesan, jika sudah berhasil dalam wirausaha agar tidak melupakan zakat dan shodaqoh. Dengan demikian usaha yang dijalankannya lebih berkah dan diridloi oleh Allah SWT.

Tema yang menarik dan penyampaian materi yang interaktif dari narasumber, akhirnya mampu mendongkrak semangat para peserta untuk memulai wirausaha. Apalagi motto yang menggugah dari DR Mira, BMW aja Yuk! Bukan BMW mobil ya, tetapi Berani Menjadi Wirausahawan, yuk!

Seminar yang dimulai pada pukul 10 pagi dan selesai pukul 13 siang, diselingi dengan lantunan nasyid dan puisi. Grup nasyid yang terdiri dari para perempuan pekerja di Gelang Patah ini menyanyikan tiga buah lagu nasyid yang bertemakan ibu. Pembacaan puisi dengan tema ibu dibacakan oleh seorang pekerja perempuan dari Senai.

Dalam seminar sehari, kemarin (23/12) terkumpul dana untuk Palestina sebanyak RM 300. PIP PKS Johor masih membuka kotak infak dana bantuan untuk Palestina. Bagi warga Indonesia di Johor yang ingin menyalurkan dananya, silakan sampaikan ke no rek. CIMB ISLAMIC 01060000271207 atas nama Ustad Azhari Zailani Daud. [Tim Media PIP PKS Johor]








Read more


Kabar kehadiran ibu Dra. Wirianingsih, M.Si tak disia-siakan oleh Bidang Perempuan PIP PKS Johor. InsyaAllah ibu 11 anak ini akan melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur pada tanggal 16 Oktober melalui rute Singapura-Johor-Kuala Lumpur.

oleh karena itulah, Bidang Perempuan PIP PKS Johor merancang sebuah acara bersama ustadzah Wirianingsih, yang akrab dipanggil Ustadzah Wiwi ini, pada tanggal 17 Oktober 2012.

Mini seminar akan mengangkat tema "MENCETAK GENERASI QUR'ANI". Tempat kegiatan pejabat IKRAM Taman Universiti. Waktu, pukul 10.30 - 13.00 waktu Johor Bahru.

Infak untuk acara seminar mini ini hanya RM10 saja. Cukup murah karena ilmu yang akan didapatkan lebih dari segalanya.

Jadi, jangan sampai ketinggalan ya. Apa dan bagaimana bu Wiwi mendidik anak-anaknya menjadi seorang hafidz dan hafidzah? Ikuti mini seminar ini dan dapatkan rahasianya :-)

(Tim Media PIP PKS Johor)
Read more
BANDUNG —- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam setahun mampu mengumpulkan dana amal dari para kadernya sekitar Rp 300 miliar. Dana itu, selain dari pemotongan gaji politisi PKS yang menjadi anggota dewan, juga hasil dari sumbangan simpatisan, serta beragam aktivitas yang digelar partai.

“Dana charity kami lebih 300 miliar per tahun. Tapi tidak cukup untuk membiayai roda organisasi PKS,” ujar Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta dalam diskusi 'Partai Politik Masih Perlu Ga Sih? Mencari Akar dan Solusi Korupsi Politik'. Acara tersebut dihelat Harian Republika bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri di Universitas Padjadjaran (Unpad), Ahad (18/3).

Menurut Anis, setiap anggota Fraksi PKS DPR, gajinya setiap bulan dipotong Rp 20 juta. Untuk DPRD provinsi dipotong Rp 6 juta per bulan, dan potongan Rp 2 juta per bulan bagi DPRD kabupaten/kota. Adapun kalau kader PKS mendapat honor tambahan, imbuh dia, maka diberlakukan sumbangan absolut kepada partai sebanyak puluhan persen.

Meski dana yang berhasil dikumpulkan cukup banyak, Anis mengaku pengeluaran PKS lebih besar dari itu. Karena itu, pihaknya mengusulkan agar ada anggaran yang diambil dari APBN untuk dialokasikan kepada partai.

Tujuannya, kata dia, agar parpol bisa hidup normal dan tidak mencari pembiayaan lewat jalur ilegal. “Perlu ada kontribusi APBN untuk program pendidikan dan pengkaderan parpol. Ini agar politisi yang duduk di DPR bisa berperan memperjuangkan aspirasi rakyat,” saran wakil ketua DPR tersebut. [REPUBLIKA]
Read more
KPK Belum Bekerja Sistemik Berantas Korupsi

JAKARTA – Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah mengatakan, setelah hampir satu dekade KPK berdiri, sudah saatnya melakukan evaluasi mendasar atas kerja yang selama ini semata mendapatkan tepuk tangan publik, namun belum menyentuh persoalan pemberantasan korupsi secara sistemik. Hal itu dikatakan Fahri, saat peluncuran buku ‘Demokrasi, Transisi, Korupsi’, Orkestra Pemberantasan Korupsi Sistemik, Selasa (15/5), di Gedung DPR, Jakarta.

“Buku ini saya tulis sebagai pertanggungawaban atas kehebohan yang timbul beberapa bulan lalu ketika saya melontarkan ide pembubaran KPK. Mari kita bubarkan KPK yang tanpa prestasi signifikaan, namun mari kita jaga KPK yang mau belajar dari kesalahan dan melakukan evaluasi diri secara institusional,” katanya.

Di dalam buku yang keempatnya sejak menjadi Anggota DPR ini, Fahri menawarkan solusi pendekatan sistemik dalam pemberantasan korupsi. Menurutnya, jangan pandang remeh aspek pencegahan dari pemberantasan korupsi. Ia menjelaskan, efek jera yang diharapkan dari penangkapan dan pemberitaan di media massa, nyatanya semu belaka. Dia menegaskan, efek jera itu tidak ada, tapi yang ada adalah ‘efek waspada’.

Malah, katanya, korupsi dilaksanakan semakin berhati-hati, pengalihan hasil dilakukan dengan berputar-putar. Koorporat disiapkan untuk menerima hasil korupsi dalam jumlah besar dan seolah menjadi bagian dari laba operasional usaha. “Bayar pajak secukupnya dan uang hasil korupsi telah ‘tercuci’ dengan sempurna. Koruptor semakin waspada menjalankan aksinya,” katanya.

Karena itu, lanjut dia pencegahan mesti dilihat secara lebih luas, tidak semata sosialisasi dan kampanye belaka. Dia mengajak untuk mendorong KPK menelisik lebih cermat segenap peraturan perundang-undangan terkait korupsi yang berlaku.

“Hilangkan wilayah abu-abu. Minimumkan kemungkinan diskresi, tutup peluang negosiasi dan penyelesaian di bawah meja dan libatkan seluruh elemen masyarakat. Itu yang menjadi inti dari buku ini,” katanya lagi.

Dia menegaksan, kerja sistemik untuk mencegak korupsi kerap bersumber dari peraturan perundang-undangan yang tidak jelas, membutuhkan orkestrasi dalam skala nasional. “Kita berharap KPK menjadi dirigen perhelatan besar ini,” katanya. “Ajak presiden yang dalam kampanyenya akan memimpin langsung pemberantasan korupsi, perkuat dan libatkan institusi ini (kepolisian dan kejaksaan,” tambahnya.

Memang, lanjut Fahri, kerja ini tanpa tepuk tangan publik dan merupakan kerja tekun di belakang layar. “Karena ini bersifat lebih mendasar. Niscaya kita akan melihat hasil yang lebih menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

Jika tidak, tegas Fahri, waktu dan tenaga nasional akan habis untuk bertepuk tangan melihat orang-orang digiring masuk ke bui. “Padahal kita dalam getir dan pesimisme yang besar. Karena, kita tidak tahu kapan pesta tepuk tangan ini berakhir,” katanya.

*http://www.jpnn.com/read/2012/05/15/127445/KPK-Belum-Bekerja-Sistemik-Berantas-Korupsi-
Read more


Oleh Cahyadi Takariawan
___________


He tangi, tangi…. iku bosmu sido ndaftar Gubernur Jakarta !

Suara melalui handphone itu demikian keras di telinga Yunus, seorang kader di Palu, Sulawesi Tengah. Jam 24.00 WITA, Yunus yang sudah tidur menjadi terbangun karena telpon genggamnya berdering. Rupanya saudaranya dari Banyuwangi menelpon dengan luapan kegembiraan, karena tengah menyaksikan berita di televisi proses pendaftaran Hidayat Nurwahid ke KPUD DKI Jakarta untuk calon Gubernur, berpasangan dengan Didik J. Rachbini.

“Alhamdulillah, sampeyan ngerti seko ngendi ?” tanya Yunus.

“Mulo ndang tangiyo, aku yo isih nonton tivi, lagi ono beritane bosmu iku…”, jawab saudaranya di Banyuwangi. Yang disebut dengan “bosmu” adalah Hidayat Nurwahid.

Keluarga Yunus yang berada di Banyuwangi merasa demikian bersyukur, karena tokoh yang sangat mereka kagumi, Hidayat Nurwahid, mendaftar menjadi calon Gubernur DKI. Sedemikian gembiranya, mereka tidak sabar berbagi, langsung menelpon Yunus yang telah istirahat di Palu. Yunus mereka kenal sebagai aktivis PKS, sementara keluarga yang di Banyuwangi merupakan warga masyarakat biasa, bukan kader.

Semua Bersyukur


Keluarga Yunus hanyalah salah satu kisah dari sangat banyak kisah serupa. Saya mendengar banyak kader di wilayah DKI melakukan sujud syukur setelah pasangan HNW – Didik resmi mendaftar di KPUD. Mereka sangat bersyukur karena tokoh yang kharismatik ini bisa maju sebagai calon Gubernur DKI. “Kami semua sangat terharu, dan bersyukur beliau berhasil menjadi calon Gubernur. Kami semua siap bekerja memenangkan beliau”, ungkap seorang kader senior di DKI.

Jika banyak kader di DKI melakukan sujud syukur, tentu wajar, karena perhelatannya memang terjadi di wilayah DKI. Namun ternyata yang merasakan kegembiraan bukan hanya kader DKI, bahkan kader di luar DKI yang tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI. Juga bukan hanya kader, termasuk simpatisan dan masyarakat umum ikut merasakan kegembiraan. Contohnya adalah keluarga Yunus di Banyuwangi. Demikian jauh dari Jakarta, dan tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI karena tidak tinggal di Jakarta, namun kegembiraannya demikian membuncah.

Yunus pun segera membangunkan isterinya, dan mereka berdua dengan antusias menyaksikan berita televisi tentang pendaftaran pasangan HNW – Didik di KPUD DKI. Mereka merasa sangat berbahagia, dan ikut merasakan semangat yang membara ingin terlibat memperjuangkan kemenangannya. Yunus tinggal di Sulawesi Tengah, namun ia tergerak untuk memberikan dukungan dalam bentuk apapun yang bisa dilakukannya.

“Saya akan mengontak teman dan kerabat saya yang tinggal di wilayah Jakarta, agar memilih pasangan HNW – Didik”, ungkap Yunus.

Demikian pula Zuhrif, kader yang tinggal di wilayah Kota Yogyakarta. “Saya sudah mengontak 22 keluarga saya yang tinggal di Jakarta, agar kelak memilih HNW – Didik dalam Pilkada”, katanya penuh semangat. Bahkan, ia menyempatkan diri hadir ke Jakarta agar bisa menyaksikan proses pendaftaran HNW – Didik ke KPUD DKI secara langsung. Jauh-jauh ia menempuh perjalanan agar tidak ketinggalan peristiwa yang monumental tersebut.

Falah, seorang kader dari Sleman DIY tidak mau ketinggalan. Dia mengirim pesan lewat grup BBM, “DPW PKS DIY harus segera membuat instruksi agar seluruh kader DIY mensukseskan Pilkada DKI, dengan jalan dukungan doa, tenaga, dan mengontak teman serta kerabat yang tinggal di wilayah Jakarta untuk memenangkan HNW”.

Luar biasa, bahkan SMS dari banyak kader di berbagai daerah, menunjukkan suasana semangat yang sangat membara. Berikut contoh kiriman SMS yang masuk ke handphone saya, dari berbagai daerah di Indonesia:

“Allahu Akbar ! Inilah saatnya memimpin Jakarta”.

“HNW memimpin Indonesia, melalui DKI Jakarta”.

“Allah beserta kita”.

“Kita bangkit bersama, menangkan HNW di DKI Jakarta”.

“Menuju RI – 1, melalui DKI – 1”.

Masih banyak contoh SMS lainnya yang sedemikian semangat menyambut pendaftaran HNW menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Semua bersyukur atas pencalonan HNW, dan ingin terlibat memenangkannya.

Pilkada yang Menggerakkan


Fenomena semangat yang menggelora sangat terasa. Semua kader ingin segera bekerja, seakan Pilkada tinggal besok pagi saja. Semua merasa tidak sabar untuk segera memenangkannya. Pilkada DKI telah menggerakkan semangat, motivasi, dan kebersamaan kader di seluruh Indonesia. Bukan hanya DKI Jakarta dan sekitarnya, namun merata sampai seluruh wilayah dan daerah.

Benar-benar Pilkada yang menggerakkan. Seakan ada sesuatu yang turun dari langit, dan menyentak perhatian kader. Kita harus segera bekerja, dan kita sudah siap untuk bergerak lebih keras dari sebelumnya. Seorang kader secara bergurau mengirim SMS kepada saya, “Berterimakasihlah kepada Foke, karena dia tidak jadi berpasangan dengan kita, sehingga kita justru bisa maju sendiri. Ini akan membuat kita solid.”

Fenomena tergerakkannya kader ini sedemikian merata. Bukan hanya di DKI Jakarta. Bahkan semua struktur wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan di Jakarta. Sebagaimana diketahui, Jakarta dihuni oleh masyarakat dari berbagai etnis dan susku bangsa. Maka semua wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan dalam rangka mengajak warga asal wilayah masing-masing untuk memilih HNW dalam Pilkada Jakarta.

Tidak perlu instruksi, tidak perlu taklimat. Semangat sudah merata. Seorang kader senior di Yogyakarta menangis, karena hanya bisa membaca berita melalui milis dan SMS tentang persiapan pemenangan Pilkada DKI Jakarta, dan ia merasa tidak bisa membantu apa-apa kecuali doa. Lihatlah, bahkan kader yang tidak tinggal di Jakarta saja merasa berdosa karena tidak bisa memberikan bantuan tenaga. Pilakada Jakarta benar-benar menggerakkan kader dan struktur semuanya.

Banyak kader yang tinggal di luar Jakarta bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan selain doa?” Masyaallah, pertanyaan yang menandakan kecintaan. Pertanyaan yang menunjukkan telah tergerakkan. “Kami tidak bisa hanya diam saja dan menonton berita. Kami harus ke sana”, ungkap seorang kader di kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan penuh semangat menggelora. “Kami akan menangis kalau hanya melihat berita”, katanya.

Subhanallah, walhamdulillah. Belum pernah saya menyaksikan Pilkada yang sangat heroik seperti di DKI Jakarta. Baru berita pendaftaran di KPUD saja, sudah menggerakkan semangat yang membara. Ikatan emosi yang demikian kuat tercurahkan, dan semua ingin bekerja memenangkan Pilkada Jakarta.

Seorang kader di wilayah Jawa Tengah dengan semangat menggelora mengatakan telah membuat tim kecil yang akan dikirim ke Jakarta, melakukan “operasi” ke masyarakat Jawa Tengah yang tinggal di Jakarta. “Operasi ini kami biayai sendiri. Ini bentuk kontribusi kami bagi kemenangan dakwah di DKI”, kata kader tersebut. Sayapun dibuat menangis oleh pernyataan ini.

Subhanallah walhamdulillah. Tadi sore melihat gambar HNW sedang rapat menyusun langkah kemenangan bersama tim, melalui grup BBM. Sayapun kembali menitikkan air mata. Gambar-gambar semacam itu telah memberikan banyak cerita. Gambar dan berita Pilkada Jakarta telah menggerakkan hati kita, nurani kita, semangat kita, kecintaan kita, kebersamaan kita, kesungguhan kita, perjuangan kita.

Subhanallah walhamdulillah. Semoga Allah berikan kemenangan dan kebaikan dalam perjuangan dakwah di DKI Jakarta.**


*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2268
Read more
Diskusi UNIMIG dengan Buruh Migran Indonesia Hong Kong

Tin Hau Art, 6 Mei 2011. Letaknya tak jauh dari Victoria Park, jalan saja lempang beberapa bangunan seberang Librari Central, tampaklah gedung Tin Hau Art, Hongkong. Di sinilah acara diskusi "orang Dewan" yang didampingi Presiden UNIMIG (Union Migrant Indonesia) Muhammad Iqbal dengan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong. Kabarnya masih dalam rangka Mayday, Hari Buruh Internasional.

Pembicaranya ditambah Mia Sumiati, pentolan aktivis BMI HK yang sudah malang-melintang membela rekan-rekannya yang sedang bermasalah. Susie Utomo, aktivis penulis dari Forum Lingkar Pena HK. Saringatin, ketua ATKI, dan Riri dari Golpindo.

“Mari kita diskusi dengan cerdas, sopan dan damai,” himbau Bustomi, pembawa acara dengan vokal yang telah berubah; suara cowok. Padahal, jelas dia dilahirkan sebagai perempuan.

Sementara di luar sana, di depan KJRI tiada hari Minggu tanpa demo BMI!

Diawali dengan membahas rencana revisi Undang Undang; tentang perburuhan TKI. Kemudian pemateri bergiliran memaparkan permasalahan yang terjadi di kalangan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong.

Di sini barulah saya tahu bahwa anggota Dewan bernama Martri Agung Komisi 9 ternyata dari PKS. Bersama Iqbal UNIMIG, Martri Agung meluangkan waktunya mengunjungi shelter-shelter yang ada di negeri beton, bahkan lanjut mampir di shelter MATIM, Macau.

“Baru kali ini ada anggota Dewan yang mau temu muka langsung tanpa protokoler KJRI,” cetus seorang rekan BMI di sebelahku.

Susie Utomo menyampaikan masukannya plus idenya yang cerdas kepada Martri Agung antara lain; ”Buatlah semacam Hotline, khusus untuk TKI di DPR sana. Kami anak-anak BMI sudah canggih urusan internet. Kita buat seperti teleconference atau Skype…”.

Usulannya kontan disambut tepuk tangan riuh oleh hadirin. Ada juga yang nyeletuk: ”Malah mungkin orang Dewannya yang gaptek. Hihi!”

Pada sesi dialog interaktif, dua BMI menyampaikan keluhannya tentang KTKLN. Beberapa penanya menyampaikan keluhan tentang perlakuan yang mereka peroleh di Terminal 4.

“Hanya ke Tanggerang, tapi setelah digiring ke Terminal 4, saya harus menunggu selama seharian, dimintai 150 ribu pula. Padahal kalau pulang sendiri naik bis cukup 10 ribu saja. Dan gak pake acara nunggu seharian segala. Ini kenapa harus dipersulit?”

“Itulah Indonesia, kalau bisa dipersulit, yah kenapa tidak dipersulit saja?”, seorang BMI nyeletuk, segera mendapat tepuk tangan riuh hadirin.

“Itu urusannya BNP2TKI, seperti KTKLN juga demikian,” jelas Hari utusan KJRI yang datang terlambat.

“Terminal 4, bagaimana Pak?”

“Ya, itu jelas urusannya BNP2TKI juga!”

“Iiiih, kalau begitu, kerjaannya BNP2TKI cuma mempersulit TKI, begitu?”

Sepertinya tidak jelas dijawab, utusan KJRI malah bahas urusan lainnya yakni pembuatan paspor sebagai bagian dari tugasnya.

Hasil diskusi dan masukan akan disampaikan ke DPR, demikian janji Martri Agung, Kita lihat saja!

Saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan sebelum acara ditutup. Seperti biasa saya menyampaikan himbauan agar BMI HK tergerak untuk menulis; merekam jejaknya dalam bentuk karya sastra.

Dua buku saya sampaikan kepada Martri Agung sebagai kenangan, yakni; Surat Berdarah Untuk Presiden karya Nadia Cahyani dkk dan Cintaku di Negeri Jackie Chan karya Ida Raihan.


by: Pipiet Senja


*http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/05/08/pak-dewan-ini-ke-hong-kong-bukan-untuk-piknik/
Read more

Copyright © 2012, BERITA PKS JOHOR Allrights Reserved - Magazine World Theme - Designed by Uong Jowo